Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2012

Nenek Tua itu Ternyata.....


Suatu hari aku pergi kekota untuk fotocopy naskah. Habis, disekitar rumahku dikomplek tidak ada yang buka fotocopy. Yah terpaksa aku harus kekota. Lama juga nunggu antrian fotokopy, maklum tempat fotocopyan itu adalah satu-satunya tempat fotocopy yang paling murah dan servicenya juga paling bagus. Jadi banyak yang memilih untuk fotocopy disana. Apalagi dikotaku Purworejo banyak sekali pelajar, bahkan ada beberapa Perguruan Tingginya tentu saja banyak yang membutuhkan fotocopy.
Lamanya menunggu antrian dengan yang mau kufotocopy tak sebanding. Aku Cuma mau fotocopy beberapa lembar saja, eh nunggunya ada setengah jam sendiri…Setelah selesai fotocopy aku mampir kewarung pinggir jalan, warteg langgananku. Mau beli perkedel dan sayur lodeh kesukaanku. Hari ini aku lagi males banget masak. Memang lagi banyak kerjaan yang harus kuselesaikan, jadi tidak sempat masak.
Lagi-lagi disini juga harus antri. Wah hari ini rizkinya lagi harus antri. Fotocopy antri, mau beli sayurpun juga harus antri. Warteg itu menjual berbagai menu masakan dari yang paling murah harganya, seribuan perpotong ( misal tahu atau tempe ) hingga yang berharga puluhan ribu rupiah untuk setiap porsinya. Pembelinyapun bukan hanya dari kalangan rakyat kecil kayak aku, namun kaum bermobilpun banyak yang datang kesini. Mereka semua harus mau sabar menunggu antrian. Masakan dari warteg ini memang termasuk enak dan murah, makanya banyak langganannya. Kecuali itu penjualnya juga sangat menjaga kebersihan. Meskipun kelas warung trotoar semua makanan ataupun masakan yang disajikan ditaruh didalam kaca atau panci yang ada tutupnya.
Warungnya benar-benar terbuka dan berkesan familiar walau sangat sederhana, hanya ada dua bangku panjang untuk duduk. Kebanyakan yang makan disini adalah para pedagang dan para tukang becak. Bagi yang bermobil mereka hanya membeli untuk dibawa pulang, mungkin mereka gengsi untuk makan bersama para tukang becak.
Pas tiba giliranku, aku segera pesan yang kuinginkan. Tiba-tiba aku melihat ada nenek tua renta sedang duduk makan dibangku panjang didekatku. Sambil menunggu pesananku dibungkus, aku duduk didekat nenek renta itu. Aku sungguh tertarik pada aura mukanya yang memancarkan cahaya yang luar biasa. Tidak sebagaimana yang kulihat pada nenek-nenek lain seusianya.
Ketertarikanku yang amat sangat untuk mengetahui nenek tua itu lebih lanjut, mengharuskanku pesan teh manis untuk kuminum, agar aku bisa berbincang-bincang dengan nenek tua itu.
“Assalamu’alaikum Nek” sapaku mendahului. “wa’alaikumussalam…wong ayuu…” jawabnya ramah sambil mengembangkan senyumnya. “Nek, apa sih resepnya sehat dan bugar diusia tua? Saya lihat nenek ini sudah tua, tapi kok sehat sekali?” Tanyaku membuka pembicaraan. “Oh ituu?...gampang kok wong ayuu..nenek ini sabar menerima takdir, emoh mengeluh, selalu bersyukur dengan apa yang diberikan sama Gusti Allah…bekerja! Bekerja dan bekerja! Orang asal tidak malas insya Allah biasanya banyak sehatnya wong ayuu..” begitu jawabnya sambil terus meneruskan makannya.
Aku benar-benar takjub. Nenek itu usianya sudah 80 tahun, tapi masih kuat menjadi kuli gendong dipasar besar dikotaku. Membantu ibu-ibu yang belanja dipasar dan tidak kuat membawa belanjaannya ketempat pangkalan becak atau ketempat angkutan umum mangkal. Ia tidak punya sanak saudara, tinggal seorang diri disebuah gubug tua, dan berjuang menghidupi dirinya sendiri dengan penuh optimisme dan dalam kebahagiaan yang amat sangat serta iman yang sungguh besar akan kasih sayang Allah kepadanya. Subhanallah…
Saya yang masih jauh lebih muda, sering mengeluh, kurang mensyukuri nikmat, merasa malu dan kalah dengan nenek tua yang sudah renta, namun PERKASA jiwanya, padahal keadaanku jauh lebih baik. Tinggal dikomplek perumahan, tidak pernah kehujanan dan kepanasan, Allah memberi riski kepadaku sekeluarga tidak harus sangat bersusah payah seperti nenek tersebut. Aku punya suami yang sangat menyayangiku, memijit kakiku disaat aku capai atau payah bekerja siang harinya. Yang selalu menemani dalam suka dan dukaku. Aku punya putri yang selalu menjadi semangatku ketika aku lemah harapanku.
Ya Allah ampunilah segala dosaku. Ampuni aku yang sering mengeluh dan kurang mensyukuri nikmatMu. Allah terima kasih telah Engkau hadirkan nenek tua ini kepadaku sehingga bisa menjadi cermin bagi hidupku. Nenek itu tak pernah lupa shalat dhuhanya, shalat tahajjutnya, dzikir diwaktu malam, makan dari harta yang halal dan thoyyib dari kerja kerasnya menjadi kuli gendong. Ia dicintai dan selalu dirindukan oleh ibu-ibu langganannya karena selalu ikhlas berapapun ibu-ibu memberi upah kepadanya ketika membawakan belanjaannya. Allah Hu Akbar.
Juga ia selalu dirindukan kepulangannya kegubug tua tempat tinggalnya oleh belasan kucing piaraannya digubugnya. Yang katanya semua lucu-lucu dan gemuk-gemuk karena nenek itu selalu membelikan kucing-kucing itu lauk yang lebih enak daripada yang dimakannya sendiri.. Tiap hari nenek itu selalu mencarikan kucing-kucing piaraannya air sumur yang cukup jauh dari gubugnya, karena semua kucingnya tidak doyan minum dari air PAM ? Ya Allah…Bahkan seminggu sekali nenek tua itu selalu membelikan susu untuk kucing-kucingnya sekalipun dirinya lebih membutuhkannya. Namun ia rela memberikan yang terbaik apa yang ia punya dan apa yang bisa diperbuatnya untuk makhluk selain dirinya.
Saya menangis terharu mendengar kisahnya. Diakhir perjumpaan kami, nenek itu mengatakan kalau ayahnya ternyata adalah seorang Sayyid. Subhanallah..Sebelum pulang kucium punggung tangan nenek itu sambil memohon doa beliau.. Mata tuanya berkaca-kaca penuh kebahagiaan. Pantas auranya berbinar, bening sebening berlian.




Kisah Unik Mencari Buku Kuno


Kisah Unik Mencari Buku Kuno
(The Real Book Love)

Hamba yang lemah, penulis buku ini berkata, “Pada masa-masa mencari ilmu, aku hidup kekurangan seperti para penuntut ilmu lainnya. Aku membeli buku-buku yang bisa aku beli dengan menyisihkan uang sakuku  yang tak seberapa, baik dengan cara kontan maupun cicilan jika memungkinkan.

Suatu hari aku melihat sebagian buku langka yang sangat penting bagiku. Aku berhasrat memilikinya, akan tetapi aku sedang dalam kemiskinan yang sangat. Sehingga tidak ada jalan untuk membelinya. Hati dan pikiranku tidak tenang karenanya.

Maka, aku menjual  syal warisan dari bapakku, semoga Allah merahmatinya, di Pasar Al-Harraj, lalu aku membeli buku-buku tersebut. Setelah membelinya, hati dan pikiranku menjadi tenang. Aku sangat bahagian bisa membeli dan memilikinya. Kebahagiaanku itu melupakan diriku dari lenyapnya syal milikku. Segala puji bagi Allah.

Terkadang aku bernadzar kepada Allah untuk menunaikan shalat sekiat rakaat jika aku mendapatkan buku tertentu. Aku pernah mengalami suatu peristiwa dalam urusan berburu buku. Aku mencatatnya di sini karena keunikannya, berikut ini kisahnya:

Ketika aku masih di Kairo menjadi mahasiswa pada Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, syaikh kami, Al-Allamah Imam Muhammad Zahid Al-Kautsari mewasiatkan kepadaku di sela-sela aku mengikuti kajian-kajiannya, agar aku memiliki buku Fath Babil Inayah bi Syarh Bukuin Nuqayah, karya Al-Allamah Syaikh Ali Al-Qari. Ia berulang-ulang mendorongku dengan sangat agar aku mendapatkan buku tersebut, karena ia mengetahui bahwa aku penggemar buku-buku langka yang bermanfaat. Aku menduga bahwa buku ini dicetak di India. Aku tinggal di Kairo selama 6 tahun sampai aku menyelesaikan kuliahku. Selama itu pula aku bertanya tentang buku tersebut. Aku mencarinya di semua perpustakaan yang aku perkirakan buku itu ada padanya. Akan tetapi, aku tidak menemukan informasi atau jejak apa pun tentangnya.

Ketika aku pulang ke kotaku Halb, aku terus mencari buku tersebut di setiap kota yang aku kunjungi atau perpustakaan yang aku datangi. Karena aku menduganya dicetak di India, sementara ia termasuk buku-buku fiqih ulama Hanafi, maka aku bertanya kepada para penjual buku-buku cetakan India dalam masalah fiqih Hanafi secara Umum. Siapa tahu aku berhasil mendapatkannya dengan cara ini, karena bisa jadi mereka tidak mengetahui namanya.

Di Damaskus terdapat banyak penjual buku kuno yang, tentunya mereka mengenali banyak buku kuno yang berharga. Mereka juga mempunyai banyak koleksi buku-buku kuno tersebut. Hanya saja mereka telah meninggikan harganya dan mempersulit penjualannya. Di antara mereka adalah Sayyid Azzat Al-Qushaibati dan bapaknya, Syaikh Hamdi As-Safarjali, dan Sayyid Ahmad Ubaid.

Aku bertanya kepada Sayyid Azzat Al-Qaushaibati tentang buku Fath Babil Inayah yang merupakan cetakan India. Ia menjawab, “Buku itu ada padaku.” Ia mengeluarkan buku Al-Binayah bi Syarhil Hidayah, karya Imam Al-Aini yang dicetak di India sejak satu abad yang lalu, yaitu tahun 1293 H, dalam 6 jilid yang sangat besar sekali. Buku ini termasuk buku-buku langka lagi berharga yang aku cari. Maka, aku membelinya dengan harga yang tidak mahal. Pasalnya, ia bukanlah buku yang aku maksudkan di awal, yang aku sebutkan namanya.

Kemudian aku bertanya kepada Syaikh Hamdi As-Safarjali tentang buku tersebut. Darinya aku mengetahui bahwa buku itu dicetak di Qazan, sebuah kota di Rusia, dan sebagaimana dikatakan bahwa ia lebih langka daripada kibrit ahmar (emas merah). Sepanjang hidup Syaikh dan kesibukannya dengan buku-buku, ia hanya memegang satu set dari buku tersebut. Ia telah menjualnya kepada Al-Allamah Al-Kautsari dengan harga paling mahal yang tidak terbayangkan. Pada saat itu juga aku mengetahui nama kota di mana buku tersebut dicetak. Harapanku untuk mendapatkannya semakin menipis!

Tatkala Allah memberiku kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke rumah-Nya yang mulia pada tahun 1376 H. Pada saat memasuki Mekah Al-Mukarramah, aku berkeliling menanyakan buku tersebut di perpustakaan-perpustakaan yang ada di sana, dengan harapan, aku bisa mendapatkannya. Apalagi di sini banyak orang yang datang dari penjuru negeri, berharap mereka memiliki inforamsi, namun ternyata belum ada hasil.

Kemudian inayah Allah membawaku kepada seorang kolektor buku kuno yang terletak di sudut sebuah pasar sederhana di Mekah Al-Mukarramah. Ia adalah Syaikh Mushthafa bin Muhammad Asy-Syinqithi, semoga Allah menyelamatkannya. Aku membeli beberapa buku darinya. Aku bertanya kepadanya – dengan penuh keputusasaan – tentang buku tersebut. Ia mengatakan kepadaku, “Buku itu ada padaku selama satu minggu. Aku membelinya dari warisan seorang ulama Bukhara. Lalu, aku menjualnya kepada seorang laki-laki dari Bukhara pula, ia termasuk ulama dari daerah Thasyqand, dengan harga yang lumayan tinggi.”

Aku hampir tak mempercayainya, hingga ia menjelaskan ciri-cirinnya dengan penjelasan yang membuktikan bahwa ia benar-benar mengetahui buku tersebut. Memang itulah buku yang aku buru dan aku cari sejak beberapa tahun terakhir ini.

Aku bertanya, “Siapa ulama Thasyqand yang membeli buku tersebut?” Si kolektor buku kuno itu mulai mengingat-ingat. Lalu, ia menyebut sebuah nama kepadaku, yaitu Syaikh Inayatullah Ath-Thasyqandi. Aku bertanya, “Di mana ia tinggal, atau tempat kerjanya, atau di mana aku bisa menemuinya?” Ia menjawab, “Aku tidak mengetahui sedikitpun tentang hal itu.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana aku bertanya tentangnya?” Ia menjawab, “Tidak tahu.” Pada saat itu keputusasaanku untuk mendapatkannya atau untuk bertemu dengan pembeli semakin bertambah.

Setelah itu aku pergi bertanya tentang Syaikh Inayatullah kepada setiap orang Bukhara yang aku lihat di Masjidil Haram, atau pasar-pasar Mekah. Aku pergi ke madrasah-madrasah dan perkumpulan-perkumpulan yang katanya ada orang-orang Bukhara di sana, untuk menanyakan tentang Syaikh dari Bukhara tersebut. Bahkan, aku sampai pergi ke komplek-komplek perumahan yang ada di luar Mekah, ketika ada yang mengatakan kepadaku bahwa di sana ada orang-orang Bukhara. Namun, pertemuan dengan syaik yang aku harapkan tidak kunjung terwujud? Berapa banyak orang-orang Bukhara yang bernama Inayatullah di Mekah Al-Mukarramah?

Pencarian yang terus-menerus membawaku kepada Syaikh Abdul Qadir Ath-Thasyqandi Al-Bukhari As-Sa’athi di kompleks perumahan Jarwal di pinggiran Mekah. Aku bertanya kepadanya tentang Syaikh Ath-Thasyqandi. Ternyata ia mengenalnya dan menyebutkan nama aslinya kepadaku, yaitu Syaikh Mir Inayah Ath-Thasyqandi. Hanya saja ia tidak mengetahui tempat tinggalnya atau di mana bisa bertemu dengannya. Pada saat itu, aku benar-benar putus asa untuk bertemu dengan Syaikh yang memiliki buku Fath Babil Inayah.

Pada saat thawaf di Ka’bah yang agung, semoga Allah menambah kemuliaan dan keagungannya, aku selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar membimbingku kepada orang yang kutuju dan memudahkanku memiliki buku tersebut. Aku terus mengulang-ulang doa dan permintaanku berkali-kali. Satu minggu telah berlalu – dan Allah Maha Mengetahuinya –, sementara pikiranku tidak pernah tentang terkait dengan pencarianku terhadap buku tersebut dan pemiliknya.

Sampai pada suatu hari, saat aku berjalan di Pasar Pintu Ziyadah dari pintu-pintu Masjidil Haram, seorang pedagang Damaskus yang lama tinggal di Mekah melihatku. Ia bernama Abu Arab. Ia memiliki tempat berdagang di sana sebelum perluasan Al-Haram. Ia pun memanggilku ke tempat berdagangnya saat melihatku berpenampilan dan berpakaian ala negeri Syam. Ia menanyakan kepadaku tentang negeri Syam dan penduduknya. Aku balik bertanya kepadanya – ia adalah seorang saudagar dari kota Damaskus, Syam – karena aku benar-benar menginginkan buku itu, yakni tentang syaikh dari Bukhara tersebut! Ia mengatakan kepadaku bahwa menantu Syaikh itu adalah suami dari anak perempuannya, yang ada di kios depan itu. Ia orang yang paling tahu tentangnya. Demi Allah, aku hampir-hampir tak mempercayainya hal itu karena saking bahagia dan gembiranya.

Aku segera pergi menemui si menantu Syaikh itu, lalu bertanya kepadanya tentang sang Syaikh. Ia merasa heran, dan balik bertanya kepadaku, “Apa yang membuatmu bertanya tentang beliau dan hendak menemuinya?” Kujawab, “Lebih dari seminggu ini, aku terus mencari sang Syaikh. Tunjukkanlah kepadaku di mana beliau, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Ia menunjukkan kepadaku rumah sang Syaikh yang berada di kompleks perumahan Al-Misfalah, di samping Qahwas Saqifah. Aku segera pergi menemui sang Syaikh berkali-kali, baik siang maupun malam, hingga aku bisa bertemu dengannya. Akhirnya, ia rela menjual buku tersebut kepadaku sesuai harga yang ia pilih dan ia inginkan. Bagiku, itu merupakan salah satu kebahagiaan sepanjang hidupku.

Allah telah memberiku nikmat, sehingga aku bisa menerbitkan juz pertama dari buku tersebut disertai revisinya. Aku memohon kepada Allah agar tetap memberiku nikmat, sehingga aku bisa menerbitkan sisanya dengan karunia dan kemuliaan-Nya.

Aku tutup pembahasan ini dengan menampilkan dua kisah secara komplit. Mayoritas pembahasan sebelumnya, telah tercakup dalam dua kisah ini. Oleh karena itu, aku mencantukannya di akhir lembaran-lembaran buku ini, karena kedua kisah tersebut telah masuk dalam mayoritas pembahasan sebelumnya.

Sumber :  Kisah Muslim Com, Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah, Cetakan : 1 : 2008

Mimpi Yang Menjadi Kenyataan


Ini kisah nyata yang saya alami sendiri. Suatu malam saya bermimpi. Sepertinya dalam mimpi itu hidup saya susah sekali. Saat itu saya sedang berada didekat sumur kecil diatas sebuah bukit. Merenungkan tentang hidup saya.
Sumur itu tak pantas disebut sumur. Hanya seperti lubang menganga berdiameter kurang lebih 1 meter. Didalamnya ada airnya yang keluar dari mata air yang ada didalamnya.
Sumur itu jernih sekali. Sehingga dasarnya bisa terlihat dari atas. Kedalamannya hanya sekitar 1,5 meter. Sedang jarak permukaan air dari bibir sumur hanya seukuran panjang lengan. Jadi jika kita ingin mengambil airnya dengan gayungpun bisa. Saya sangat heran, mengapa diatas bukit ada mata air yang sedemikian dangkalnya. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Didasarnya terlihat batu batu besar bercampur dengan kerikil, sepertinya tak ada lumpur sama sekali disana. Ada ikan-ikan kecil sebangsa lunjar disana. Dari manakah ikan-ikan kecil itu datang keatas bukit? Subhanallah..Maha Suci Allah.
Tiba-tiba datang seorang Kyai Sepuh (Tua) yang maaf mukanya buruk sekali seperti orang cacat habis kebakaran. Rambutnya putih panjang penuh uban, digelung diatas kepalanya. Saya tidak tahu dari mana Kyai Sepuh itu datang. Tiba-tiba sudah ada didekat saya. Beliau mengucapkan salam. Sayapun membalas salamnya.
Saya agak ketakutan ketika Kyai itu mendatangi saya. Tapi raut muka dan sinar matanya lembut, sehingga rasa takut saya perlahan sirna. Lalu beliau  berjalan kearah pohon pisang yang ada disekitar kami. Dan mengambil daun pisang muda yang ada dipucuk. Saya tidak mengerti maksudnya. Lalu beliau mengambil air dari dalam sumur itu dan diberikannya kepada saya. Dengan alas daun pisang muda yang baru saja diambilnya.
‘Minumlah…Air ini adalah air kehidupan, jika kamu minum air ini, hidupmu akan menjadi berkah dan dadamu akan menjadi lega. Ya..?’ Suara Kyai itu lembut dan teduh sekali. Kyai itu sambil mengulurkan tangannya memberikan air yang ada dalam daun pisang itu kepada saya.
Ketika mendengar kata-katanya mata saya berkaca-kaca. Seolah Kyai sepuh itu mengerti apa yang menjadi penderitaan saya, kesedihan saya dan semua problem hidup saya. Seolah-olah saya berada di dekat Bapak saya almarhum, yang ketika beliau masih hidup selalu menghibur saat saya bersedih.
Entah mengapa saya serta merta menerima air itu dari tangan Kyai. Masih ada keraguan dalam hati saya untuk meminumnya. Rupanya Kyai itu menangkap keragu-raguan dihati saya.
‘Minumlah tak usah ragu-ragu’ Katanya kemudian, sebelumnya air itu didoakan oleh Kyai Sepuh itu.. Tak lama kemudian air itu saya minum. Segar sekali rasanya. Air itu seperti mengandung daya hidup yang luar biasa. Tubuh saya seperti teraliri energi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Segar dan menyehatkan rasanya. Dan tiba-tiba seluruh kesedihan saya, penderitaan saya dan problem hidup saya seolah sirna setelah minum air itu.
Kyai itu tersenyum sepertinya senang sekali saya mau minum air pemberiannya. Ada keharuan yang menyeruak bertemu dengan Kyai Sepuh dalam mimpi itu. Entahlah saya tidak tahu mengapa?
Saya menjadi penasaran atas sumur yang seperti tidak lazim itu. Kok airnya begitu luar biasa. Lebih aneh lagi ketika tiba-tiba saya melihat bayangan wajah saya yang muncul dari dalam air sumur itu menjadi muda kembali dan sangat cantik. Dan ketika saya mau mengucapkan terima kasih, Kyai Sepuh itupun sudah tidak ada lagi didekat saya. Entah kemana perginya. Sehingga saya juga tak sempat bertanya tentang sumur itu kepada Kyai Sepuh itu.
Saya tiba-tiba terbangun. Jam 2 dinihari. Saya masih takjub akan mimpi yang baru saja saya alami. Namun sempat terbersit juga dibenak saya. Alangkah senangnya bila sumur itu bukan hanya dalam mimpi. Tapi benar-benar ada, dan benar-benar berkhasiat.
Saya lalu shalat tahajjud menyerahkan mimpi saya kepada Allah, memohon perlindungan dari apa yang saya tidak tahu hakekatnya.
ESOK PAGI HARINYA…
Pagi-pagi sekali belum ada jam delapan, sahabat saya, Bu Anik  namanya sudah datang kerumah saya. Biasa dia memang sering nongol kerumah saya, walau tidak ada yang penting untuk dibahas, dia memang rajin bersilaturahim.
Orangnya jauh lebih muda dibawah saya. Usianya memang sudah kepala 4. Namun masih energik seperti remaja saja. Senang motoran kesana kemari. Paling hobby kalau dimintain tolong antar teman kesuatu tempat. Entah ke puskesmas, entah ketoko, entah kemana. Pokoknya rajin menolong teman.
Nah pagi itu wajahnya kelihatan mendung, tak bergairah. BeTe. Dia mengajak saya untuk jalan-jalan motoran tanpa tujuan. Pokoknya sekedar menghilangkan kejenuhan. ‘Sireng-sireng’ istilah di kota saya Purworejo. Biasa ! Setiap wanita mungkin pernah mengalami yang namanya kejenuhan hidup. Bangun tidur sampai malam tidur lagi, menjalani rutinitas yang sama setiap hari. Ngurus rumah, ngurus suami, ngurus anak wah tak ada henti-hentinya.
Pagi itu kami berdua lalu pergi naik motor. Saya pamit ke suami saya mau jalan-jalan ke kota ( komplek perumahan kami kebetulan agak dipinggir kota ).Tentunya tidak keluar kota, sebatas memutari alun-alun, minum dawet hitam khas kota Purworejo, sudah itu lalu pulang. Begitu kebiasaan kami kalau lagi BeTe. Atau kalau tidak, pergi ke Toko Buku, sekedar melihat-lihat barangkali ada buku baru yang bagus.
Ketika motor baru saja meluncur dari rumah, tiba-tiba saya punya idée bagus. Lebih baik ke makam Mbah Imam Puro saja dari pada bepergian tak karuan juntrungnya. Mbah Kyai Imam Puro adalah cikal bakalnya kota Purworejo. Bu Anikpun sangat setuju. Kami berdua memang sering ke makam Mbah Imam Puro,  sebagai bentuk penghormatan kami kepada Ulama Sepuh agar kami bisa meneladani keimanan dan akhlak beliau.
Makam Mbah Imam Puro, adalah makam yang dikeramatkan oleh masyarakat, karena konon Beliau adalah seorang Waliyullah. Makamnya selalu ramai dikunjungi orang. Dari mana-mana. Bukan hanya dari sekitar Purworejo saja, akan tetapi dari luar kota. Apalagi pada hari peringatan meninggalnya ( khaul )nya Mbah Imam Puro, hingga beribu-ribu orang datang kesana. Untuk mencari berkah keutamaan.
Tempatnya berada di ketinggian sebuah bukit, jalannya berliku-liku dan menanjak, menjadi tantangan tersendiri bagi para peziarah untuk sampai ke makam. Jalan sepanjang menuju makam melewati hutan kecil yang tidak ada penduduknya. Jadi sepi, mempunyai nuansa tersendiri bagi seseorang.
Bagi orang yang sehat saja, ketika berkunjung ke makam Mbah Imam Puro pasti ngos-ngosan nafasnya sampai di atas, apalagi bagi orang yang fisiknya kurang sehat, mungkin baru sampai setengah jalan harus mengurungkan niatnya untuk berziarah.
Untuk sampai ke makam itu ada dua jalur. Yang satu jalur untuk khusus pejalan kaki, jalannya terdiri dari anak tangga yang makin keatas makin terjal  tanjakannya. Jalur yang lain bisa ditempuh dengan naik motor sampai ke lokasi makam. Rata terbuat dari paving, mulai dari bawah sampai ke lokasi makam yang berada diatas bukit.
Tetapi peziarah harus ekstra berhati-hati mengendarai motornya, karena jalannya berliku, menanjak dan banyak tikungan tajam dan terjal. Meleng sedikit bisa fatal akibatnya.
Singkat kata, saya dan Bu Anik sahabat saya sudah sampai kemakam. Disana banyak pengunjung yang berziarah. Saya dan Bu Anik membaca doa secukupnya, sesudah itu kami berencana langsung mau pulang.
Tidak seperti biasanya. Sebelum pulang, kali ini saya menyempatkan seksama melihat-lihat keadaan disekeliling makam. Entahlah, tiba-tiba mata saya tertumpu pada semak-semak yang ada diutara makam sebelah atas. Di utara makam ada bukit yang lebih tinggi lagi..Ada jalan setapak yang melintas disepanjang bukit. Kanan kirinya berdiri kokoh pohon albasia besar.
Tiba-tiba ada ibu muda sederhana menyapa kami dengan ramah ketika kami sedang melihat-lihat kearah bukit itu. ‘Ibu mau lihat sumur, apa Bu?’ tanyanya. Saya terkesiap mendengar ibu muda itu menyebut tentang sumur, jadi ingat mimpi semalam. ‘Emang ada sumur apa mbak diatas sana?’ Tanya saya. ‘Iya disana ada sumur tiban (datangnya tiba-tiba)’ jawabnya. Saya makin penasaran. Tapi saya bimbang, mampukah saya mencapai sumur itu? Mengingat jalan setapak menuju sumur itu begitu terjal?
Rupanya ibu muda itu bisa menangkap keraguan saya. Dia berkata :’Ibu, kemarin ada ibu-ibu yang usianya lebih tua dari ibu juga bisa sampai kesana kok, jadi ibu insya Allah juga akan kuat sampai kesana’ ucapnya menyemangati saya. ‘Kenalkan saya yang menunggu sumur itu Bu’ ucapnya kemudian sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Semangat saya jadi membara ingin melihat ‘sumur tiban itu’. Apalagi karena sahabat saya Bu Anikpun juga bersemangat sekali untuk melihat sumur tiban itu. ‘Ayo Eyang, kita kesana, yakin saja Eyang, kita insya Allah bisa kesana !’ bujuk Bu Anik berapi-api !.
‘Ya sudah ayo kita kesana. Bismillahirrahmanirrahim’ kataku kepada Bu Anik...Setapak demi setapak saya berjuang dengan susah payah menapaki jalan setapak yang begitu terjal itu. Di pohon albasia besar yang ada di sebelah kanan dan kiri jalan setapak itu terlihat ribuan ulat bulu besar-besar yang menempel dikulit pohon bagian bawah. Bulu kuduk merinding kalau ingat pemandangan itu. Andai saja ulat itu tiba-tiba loncat dan menempel ke tubuh saya apa yang akan terjadi? Saya pasti akan berteriak-teriak karena geli dan ketakutan.Iih ngerii..
Ibu muda juru kunci sumur tiban itu mengekor dibelakang kami. Kami berdua, saya dan Bu Anik bergidik juga ketika menyusuri jalan setapak itu menuju ke sumur.Disekitar jalan setapak yang kami lalui banyak semak-semak rimbun yang bisa saja ada ular besar yang tiba-tiba melintas, kaget dan menyerang kami..
Ya Allah lindungilah kami dalam perjalanan ini, doa saya setiap kali. Saat itu karena masih pagi, masih sepi, belum ada pengunjung yang mendatangi sumur. Kata ibu juru kunci sumur itu, hari-hari biasa memang jarang yang datang kesumur itu, karena keberadaan sumur itu belum lama baru beberapa tahun dan tempatnyapun tersembunyi dipuncak bukit, dan sulit dicapai orang. Kecuali belum banyak dikenal orang, untuk sampai kesana kita harus punya nyali yang kuat.
Setelah berjalan beberapa lama terengah-engah, Alhamdulillah sampailah kami di sumur tiban yang dikatakan juru kunci sumur itu.
Ya Allah, subhanallah…Sumur tiban itu persis sama dengan sumur yang ada dalam mimpi saya semalam. Juga pohon pisang yang daunnya diambil oleh Kyai tadi malam, semuanya ada dihadapan saya sekarang…
Saya lebih terkejut lagi ketika Ibu juru kunci sumur itu menceritakan sejarah sumur tiban itu. Konon jaman dulu kala ada orang yang mohon maaf sangat buruk rupanya, sehingga isterinya sangat membencinya. Karena kesedihannya yang sangat dalam dibenci oleh isterinya, maka laki-laki itu kemudian meninggalkan rumah untuk bertapa.
Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun laki-laki itu tak kunjung pulang kerumah. Dan tak ada seorangpun yang tahu kemana perginya laki-laki buruk rupa itu. Padahal orangnya sangat baik karena dia adalah seorang kyai. Tetangganyapun sangat kehilangan dengan kepergiannya.
Hingga suatu saat ada seseorang tetangga desa yang menemukan seseorang yang sedang bertapa namun telah meninggal dunia. Tubuhnya masih utuh, tidak berbau busuk, bahkan harum baunya, namun sudah tidak bernyawa. Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang. Ternyata setelah dilihat, benar ! Dialah Kyai Buruk Rupa yang menghilang dari rumahnya bertahun-tahun  karena kesedihan hatinya. Lalu Kyai buruk rupa itu dimakamkan dimana beliau ditemukan.
Sekarang ini makamnya ada dilokasi sumur namun agak disebelah atas bukit. Saya tidak berziarah kesana karena fisik saya sudah tidak kuat menjangkaunya.
Nah apa hubungan Kyai buruk rupa itu dengan sumur tiban yang ada dalam mimpi saya semalam yang sekarang sudah ada dihadapan saya ini?
Konon, di sekitar makam Mbah Imam Puro dulunya tidak ada sumur. Meskipun berapa kali diusahakan airnya sedikit sekali keluar dan itupun sangat dalam. Apabila musim kemarau airnya tidak keluar sehingga menjadi keprihatinan para pengunjung karena fasilitas air sangat susah, bahkan sering tidak ada sama sekali.
Suatu hari juru kunci makam Mbah Imam Puro bermimpi. Disuatu tempat (didekat sumur tiban itu) ia ditemui seorang laki-laki yang sangat buruk rupanya. Dalam mimpinya itu laki laki buruk rupa itu berkata ‘galilah dibawah pohon pisang ini, kalau kamu ingin membuat sumur, karena dibawahnya ada mata air yang bagus’
Setelah berpesan seperti itu laki-laki buruk rupa itupun kemudian menghilang…
Pagi harinya, percaya atau tidak percaya, karena penasaran, juru kunci makam Mbah Imam Puro itupun lalu mencari lokasi seperti yang ada di dalam mimpinya semalam. Dia kaget. Ternyata tempat itu benar-benar ada. Pohon pisang seperti yang ada dalam mimpinyapun juga ada. Ia lalu tanpa ragu lagi segera mencangkul tanah dibawah pohon pisang seperti yang ditunjukkan oleh laki-laki buruk rupa dalam mimpinya semalam.
Betapa kagetnya juru kunci itu ketika baru beberapa kali ia mencangkul, tiba-tiba tanahnya basah, makin kedalam ia cangkul makin banyak airnya, sehingga akhirnya benar-benar keluar air dari sebuah mata air yang cukup deras. Juru kunci itu begitu terkesima melihat mata air dihadapannya yang begitu deras memancarkan air yang begitu bening.
Ini adalah keajaiban. Sementara dilain tempat disekitar lokasi makam, berkali-kali diusahakan hingga sangat dalam tidak pernah ketemu mata air yang bagus, namun ini hanya dicangkul baru beberapa jengkal saja ada mata air yang cukup deras.
Padahal tempatnya jauh lebih tinggi dari lokasi makam, karena berada dipuncak bukit paling atas. Lalu hal inipun menjadi berita yang cukup menghebohkan bagi penduduk sekitar makam juga penduduk kota Purworejo. Alhamdulillah sejak adanya sumur tiban itu, para pengunjung makam tidak pernah kekurangan air.
Meskipun diambil oleh ribuan orang, ajaibnya sumur itu tetap banyak airnya tak bergeming. Seolah tak pernah diambil airnya. Saya hanya bisa mengucap Allah Hu Akbar…Sayapun lalu berwudhlu disitu, meminum airnya, dan membawanya untuk dibawa pulang sebagai tanda bahwa saya sudah sampai disumur tiban. Sampai ketika saya menulis kisah nyata ini belum hilang keheranan saya, atas mimpi yang saya alami dan menjadi kenyataan.
Masih banyak kisah sejenis yang memang saya alami dalam hidup saya,yang insya Allah akan saya ceritakan kepada Anda, semoga bisa menambah keimanan kita semua bahwa Allah Sungguh Maha Besar dengan segala kehendakNya.
Subhanallah…Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala keajaiban atas kehendakNya.

By Niniek SS.

Ribuan Belalang Di Rumahku


        Kejadian ini terjadi ketika aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar kelas V. Padahal usiaku sekarang sudah 55 tahun. Bayangkan sudah lama sekali 44 tahun yang lalu. Namun peristiwa itu masih jelas terbayang dalam benakku. Seolah baru kemarin saja terjadi.
        Aku mempunyai seorang kakak laki-laki yang biasa kupanggil dengan mas Un. Ketika sudah sampai saatnya kakakku dikhitan, orang tuaku merencanakan saat untuk mengkhitankan kakakku. Maklum orang tuaku tidak mampu. Jadi bagaimanapun sederhananya acara khitanan harus direncanakan jauh hari sebelumnya. Orang tuaku mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk acara khitanan itu.
        Sampai tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Pada hari yang ditentukan kakakku kelihatan gelisah. Mondar-mandir berjalan kesana kemari sebelum berangkat ke Pak Mantri sunat ( khitan ). Saya jadi ikut-ikutan gelisah waktu itu. Tak lama kemudian kakak diantar oleh Bapak berangkat kerumah Pak Mantri  tukang sunat. Mereka goncengan berdua naik sepeda onthel gowes.
        Sepeda onthel tua inventaris dari kantor kecamatan dimana bapak berkerja. Waktu itu kami tinggal di desa agak di pegunungan. Kalau sudah jam 3 sore udaranya cukup dingin. Jadi pada memakai sweeter atau pakaian tebal, atau jaket untuk mengurangi dingin.
        Waktu itu kebetulan musim kemarau jadi cuaca sangat dingin dimalam hari. Bapak dan kakak berangkat jam 5 sore. Ibu kelihatan gelisah menunggu dirumah. Ketika kakak dan bapak terlihat pulang selepas maghrib, ibu kelihatan lega. Matanya berkaca-kaca. Bertambah lagi satu anak laki-lakinya yang sebentar lagi akan menjadi dewasa.
        Kakak seperti menjadi raja waktu itu. Menjadi perhatian dari setiap tamu yang datang. Para tetangga, sanak saudara dan teman kerja bapak serta teman-teman ibu mengajar. Sambil bersalaman pulang, setiap tamu selalu memberi  kakak amplop berisi uang..Kakak berseri-seri wajahnya, karena mendapat uang banyak dari para tamu yang datang, meski terkadang meringis menahan sakit.
        Kami waktu anak-anak, jarang menyentuh uang, kecuali kalau disuruh ibu untuk membeli sesuatu di warung. Karena waktu aku masih kecil dulu, jarang anak kecil mengenal jajan.Tidak seperti anak anak jaman sekarang. Yang terlalu banyak jajan.
        Masih mending kalau jajanan yang dibeli adalah jajanan sehat. Apalagi jajanan yang beredar di sekolah-sekolah di desa-desa. Kebanyakan dibuat semurah mungkin, agar harganya terjangkau oleh anak-anak.
        Untuk menjangkau harga yang murah tentu ongkos produksi ditekan sedemikian rupa. Akhirnya digunakan bahan-bahan pewarna, perasa pengembang, agar warnanya menarik dan rasanyapun enak walau harganya murah. Padahal zat-zat kimia ini sangatlah berbahaya bagi tubuh manusia..Inilah biang keladi terjadinya penyakit dimasa depan !
        Ini tentu sangat merugikan kehidupan manusia. Apalagi anak-anak adalah cikal bakal generasi muda bangsa. Embrio keluarga yang kelak bakal menentukan masa depan keluarga. Dan keluarga merupakan komponen terkecil suatu bangsa. Jika ada anggota seluruh keluarga ini sakit atau otaknya dikemudian hari menjadi bodoh karena mengkonsumsi makanan yang tidak sehat dimasa kecilnya, bagaimana nasib bangsa ini kelak?
        Eh ceritanya kok jadi ngelantur kemana-mana ya? Sampai dimana cerita saya tadi?
        Kembali ke soal kakakku yang sedang dikhitan. Kasihan sekali melihatnya waktu itu. Pulang sudah memakai sarung, dan alat vitalnya ditopang pakai sabut kelapa, entah mengapa. Sampai saat inipun aku tak pernah menanyakan mengapa jaman dulu setiap habis khitan kok alat vital penderita selalu ditopang dengan sabut kelapa?
        Tidak seperti jaman sekarang, keluar dari ruang khitan anak-anak sudah lenggang kangkung memakai celana seperti bukan baru saja dikhitan. Katanya kini memakai tehnologi laser dimana khitan tanpa terasa sakit, baik ketika sedang dikhitan maupun sesudahnya.
        Orang tuaku tak mengundang siapapun ketika kakak disunat, kecuali memberitahu keluarga dekat untuk memohon doa restu mereka. Namun ternyata yang datang banyak sekali, diluar dugaan kata ibu. ANEH !!! persediaan makanan cukup. Padahal ibu menyediakannya hanya sedikit, sangat tidak seimbang dengan banyaknya tamu yang datang.
        Apakah ada hubungannya dengan kedatangan Romo Semana sebelumnya? Wallohua’lam .Nah ini begini kisahnya !
        Sesaat setelah kakak tiba dirumah selepas maghrib, tiba-tiba ada mobil impala warna biru benhur ( kalau tak salah ingat ) berhenti dipinggir jalan. Bapak dan ibu tergopoh gopoh menyambut kedatangan mobil impala biru itu.
        Rumah kontrakan yang kami tinggali adalah terletak dipinggir jalan raya kearah kota Magelang. Posisinya agak menjorok kebawah, sehingga kalau ada kendaraan yang melintas dijalan raya itu seolah berada diatas kepala kami. Dan ketika impala biru itu parkir dipinggir jalan sangat jelas terlihat dari rumah kami.
        Aku waktu itu tidak mengerti mengapa bapak dan ibu sangat tergopoh-gopoh ketika melihat mobil impala itu parkir dipinggir jalan didepan rumah. ‘Pasti orang penting yang datang itu’ pikirku..
        Kulihat seorang laki-laki turun dari impala biru itu. Wajahnya bersih, agak gendut, sangat berwibawa, juga kesan ningrat sangat kentara pada roman mukanya. Usianya kurang lebih diatas 60 tahun.
        ‘Siapakah gerangan dia” pikirku. Aku belum pernah melihat orang ini sebelumnya. Sepertinya orang ini baru pertama kalinya datang kerumah kami.      Bapak dan ibu langsung mencium tangannya ketika sudah dekat dengan orang itu.
        ‘Sugeng Romo..’ sambut bapak dan ibu penuh santun.
‘Alhamdulillah Romo berkenan datang Ya Alloh..’ kata ibu kepada orang itu. Bapak dan ibu kelihatan sangat gembira dengan kedatangan orang yang disebut Romo itu. Sekaligus kaget dan heran karena tidak menyangka akan kedatangannya.
        Dalam perbincangan antara bapak, ibu dan Romo, kuketahui kemudian bahwa Romo itu adalah ‘Romo Semana’. Karena ibu maupun bapak beberapa kali menyebutkan namanya. Aku memang sudah sering kali mendengar tentang Romo Semana, orang pintar dikotaku waktu itu, yang sering dikunjungi oleh banyak orang untuk meminta pertolongan. Paranormal atau ahli metafisika istilah kerennya. Banyak pejabat Negara berkunjung kerumahnya.
        Aku tahu itu karena rumah Romo Semana tak jauh dari jalan besar yang biasa dilewati kendaraan umum, dan terlihat jelas mobil-mobil para tamunya yang sedang berkunjung kerumah beliau. Rumah Romo Semana sebenarnya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami kurang lebih hanya 6 kilometer. Namun keluarga kami tak pernah berkunjung kerumah Romo Semana karena tak mempunyai kepentingan.
        Rama Semana memang sangat terkenal sampai kemana-mana. Anak anak kecil seumur aku waktu itu saja mengenal namanya saking populernya. Walau aku belum pernah bertemu dengan sosoknya, namun nama Romo Semana sudah akrab dengan telingaku. Ketika Ibu dan Bapak menyebut bahwa yang datang itu adalah Romo Semana. Aku terbengong..’Oh pantas kalau beliau disebut orang pintar’, karena tampilan fisiknya saja telah mencerminkan bahwa beliau adalah orang besar dan sangat berwibawa.
        Namun tidak ada lima menit Romo bertamu dirumahku. Rasanya baru saja beliau datang. Eh sudah pamitan. Ketika ibu menghidangkan kue-kue dan mempersilahkannya, beliau menggeleng santun. ‘Air putih saja’ Kata Romo meminta kepada ibu.
        Lalu ibu segera menyerahkan segelas air putih yang diminta Romo Semana. Dikiranya untuk diminum Romo, ternyata segelas air putih itu oleh Romo kemudian didoakan, dan kemudian diserahkan kembali kepada ibu, sambil beliau berpesan:’Berikan air ini untuk anakmu yang sedang khitan’.
        Dengan serta merta, ibupun lalu memberikan segelas air putih yang sudah didoakan oleh Romo Semana itu kepada kakakku untuk diminum. Beberapa saat keadaan ini cukup menegangkan, karena tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Hening beberapa saat.
        Tidak lama kemudian Romo Semana pergi meninggalkan rumah kami.
        Bapak dan ibu masih terpana dengan kedatangan Romo Semana. Bapak dan ibu belum pernah kenal dengan beliau, dan belum pernah datang silaturahim kerumah Romo Semana, walau beliau seorang yang sangat terkenal dikota kami.Mengapa beliau mau datang kerumah kami padahal tak diundang? Wallohua’lam .
        Mana berani orang tuaku mengundang orang ternama untuk datang pada khitanan kakakku? Bukan karena apa, pertama bukan kenalan dari ibu dan bapakku. Yang kedua orangtuaku merasa tidak punya kepentingan untuk mengundang beliau datang kerumah kami dalam acara khitanan kakakku.
        Pantas saja bapak dan ibu masih terbengong bengong agak beberapa saat, mengingat tidak mudah untuk mendatangkan Romo Semana. Ini beliau tidak diundang kok malah berkenan datang sendiri. Kan aneh..
        Tak lama kemudian sesudah Romo meninggalkan rumah kami, tiba-tiba ada belalang hijau beterbangan didalam rumah. Awalnya hanya satu atau dua ekor, ANEH !!! lama-lama menjadi ribuan belalang yang membuat bulu kuduk meremang, ingat pada kisah tentang jamannya Fira’un dan Nabi Musa AS. Pada saat itu kami tak terpikir untuk menghubung-hubungkan kedatangan Romo Semana dengan ribuan belalang itu.
        Semua yang ada didalam rumah pada terbelalak heran. Tak ada seorangpun yang bisa menganalisa tentang kejadian itu. Hingga sekarang kejadian itu menjadi misteri yang belum terpecahkan. Berpuluh tahun kemudian, kakakku Mas Un sebagaimana orang-orang yang lain, selesai kuliah lalu bekerja, menikah dan mempunyai beberapa putra dan putri.
        Kehidupannya termasuk sangat lancar dibanding kami sepuluh bersaudara. Putra putrinyapun mengalami kelancaran hidup seperti kakakku Mas Un. Sekolahnya lancar, mencari perguruan tinggipun juga tanpa proses yang sulit. Lulus kuliah langsung diterima bekerja pada perusahaan yang memberi gaji besar.Subhanallah..
        Meskipun zaman ini bukanlah zamannya Nabi Musa dimana banyak terjadi keanehan-keanehan alam, seperti dimana mana banyak belalang, air menjadi darah sehingga tidak bisa diminum, laut terbelah, namun kalau sudah Allah kehendaki ribuan belalangpun bisa tiba-tiba muncul dihadapan kita sekarang, walau bukan habitat hidup belalang, dan kitapun tak ada seorangpun yang tahu apa yang menjadi sabab musababnya.
        Inilah satu fenomena kebesaran Allah SWT. Dimana kita harus yakin pada kekuasaanNya dan kehendakNya. Semoga tulisan ini bisa menjadikan kita makin taqwa kepadaNya, berharap dan berserah diri hanya kepadaNya, Allah SWT.

By Niniek SS  
       

       

         

       
       

Jeritan Panjang Di Kali Angke


RINTIHAN PANJANG DI KALI ANGKE..


Alhamdulillah...pagi yang cerah penuh berkah..semoga tercurah atas kita sekalian pengampunan,rahmat dan karunia Alloh SWT.Amien...
Bagaimana perasaan Anda dipagi yang cerah ini Sahabat? Semoga kita semua berbahagia adanya.
Oh ya pagi ini tiba-tiba saya terkenang akan pengalaman saya 35 tahun yang lalu ketika saya menolong seorang pembantu rumah tangga ( perempuan ) yang dianiaya oleh majikannya,di Jakarta,hingga kematiannya ia tak bisa menyebutkan identitasnya,kecuali satu kata..'TEGAL' itulah yang mampu diingatnya.
Tahun 1976 adalah tahun kedua saya tinggal di Jakarta..Di bilangan daerah Grogol, dulu belakang terminal Grogol. Saya dulu tinggal dijalan Susilo Raya.
Persis ditikungan jalan yang membujur sepanjang kali Angke Grogol.
Rumah saya menghadap keutara, menghadap ke kali Angke itu,disepanjang pinggir kali yang terbentang, banyak ditanam pohon kayu putih dan sekitarnya ditumbuhi rumput ilalang yang rimbun setinggi lebih dari satu meter.
Sepanjang saya tinggal disitu tak pernah ada kejadian apapun yang aneh. Tiap pagi saya pulang pergi naik helicak ke pasar Grogol melintas disitu pemandangannya selalu saja sama. Air kali yang kotor, sampah yang kian menumpuk dan ilalang yang makin rimbun saja.
Sampai suatu hari dipagi buta..ketika saya mau buang sampah didekat situ,saya mendengar rintihan panjang...seperti rintihan orang yang sedang kesakitan sangat..
Awalnya saya masih ragu dengan pendengaran saya..Dan saya berusaha mencari dari mana asal rintihan itu..Kadang-kadang terdengar agak jelas..kadang-kadang hanya sayup-sayup sampai dan tiba-tiba sudah hilang tertiup angin.
Tapi rintihan itu sungguh menarik perhatian saya dan saya sangat penasaran.Pendengaran saya benar-benar saya pusatkan kearah sumber suara rintihan itu. Seperti seorang detektip lagi memburu mangsanya..Harus cukup sabar juga, karena suara itu hilang-hilang timbul..Lagian belum adzan subuh jadi masih cukup gelap, saya juga ngeri iih kalau ada apa-apa. Mana jalanan disitu emang sangat sepi waktu itu.
Ada setengah jam saya menunggu disitu. Tak ada perkembangan apapun..Sampai pagi sudah mulai tiba..tak terdengar lagi suara apapun. Hari mulai ramai orang bepergian. Suara bajay, sepeda motor,orang bercakap-cakap lalu lalang naik sepeda kian riuh sehingga sulit sekali untuk menangkap rintihan itu..
Siang seharian saya ada dalam penantian panjang yang tak berujung pangkal. Kejadian saya mendengar rintihan itu tak saya ceritakan kepada siapapun orang serumah.Saya merenung..suara siapakah gerangan? Tapi tadi saya benar-benar mendengar jelas orang yang merintih amat sangat. Tetapi sumber asal suara itu yang belum saya ketemukan..Saya baru akan menceritakan kepada orang kalau sudah saya temukan sumbernya, dan bagaimana kejelasannya.
Datangnya malam sangat saya nantikan. Pertama sudah tidak ada orang lalu lalang lewat disitu, ya ada paling-paling sesekali suara sepeda motor lewat,tapi tidak sebising siang hari,war wer-war wer,sehingga sulit untuk berkonsentrasi.
Malampun tiba..
Habis maghrib saya mulai beroperasi lagi kepinggir kali. Saya dengarkan sungguh-sungguh segala suara yang berasal dari sekitar situ..Tiba-tiba terdengar rintihan itu kembali..tapi kali ini lebih lemah dari yang saya dengar pertama kali..walau lebih jelas..Ya benar..suara rintihan itu memang berasal dari sekitar sini..
Saya bawa baterai. Saya arahkan sinarnya memutar dari arah saya berdiri,mata saya nanar mencari-cari sumber suara itu..Tiba-tiba cahaya baterai saya menangkap sesuatu agak dikejauhan. Seperti benda yang terbungkus kain. Saya fokuskan cahaya baterai kearah benda itu. Untuk memastikan apakah sebenarnya benda itu..Saya agak serem juga waktu itu..bayangkan malam-malam seorang diri berada dipinggir sungai,diantara semak ilalang campur sampah tanpa teman dan sedang berburu pencarian.
Betapa kagetnya saya setelah cahaya baterai saya mampu menangkap benda yang teronggok tadi dengan sangat jelas.. Seorang perempuan muda seumuran 25 tahun terbaring merintih kesakitan dipinggir kali..Sayapun kebingungan...apa yang musti saya lakukan?
Tanpa pikir panjang saya kemudian kembali kerumah yang sangat dekat dengan kali. Lalu saya datang kerumah bu RT maksud saya mau menemui pak RT dan lapor atas kejadian itu. Tetapi pak RTnya lagi pergi keluar kota yang dirumah hanyalah bu RT.
Lalu bu RT mengajak saya saat itu juga untuk kembali kepinggir kali dimana saya temukan perempuan yang tergeletak itu..Sampai ketempat perempuan itu bu RT geleng-geleng kepala. Perempuan yang terbaring itu sudah kehilangan daya ingat, ditanya tentang identitasnya tidak dapat menjawabnya dengan baik. Badannya panas..rambut kepalanya lengket dengan luka menganga yang sudah menjadi koreng. Lalat beterbangan mengitari tubuhnya yang baunya sangat busuk.Tapi ia masih sadar.
Saat itu juga saya berunding dengan bu RT. Sebaiknya apa yang akan kita lakukan. Kami sepakat untuk memberikan pertolongan pertama lebih dahulu. Saya bertugas membuatkan makanan dan bu RT yang akan merawat luka-luka dikepala dan dibeberapa anggota badannya yang lain.Melepuh seperti bekas terkena siraman air panas sudah beberapa hari. Sedang luka dikepalanya seperti bekas terkena benda panas.
Kami pulang berbarengan kerumah kami masing-masing yang kebetulan berdekatan. Bu RT kembali untuk mengambil perlengkapan merawat luka-lukanya,dan saya untuk mengambil makanan yang akan saya berikan kepada perempuan itu.
Kami kembali kesemak-semak dipinggir kali dimana perempuan luka itu terbaring.Sibuk.Bu RT terlihat membawa gunting, boorwater,perban,sulfanilamide,betadin dan kapas. Saya membawa susu,madu,telor ayam kampung dan secawan bubur sumsum yang masih hangat. Bubur yang baru saja saya buat mendadak.
Dengan cekatan bu RT memotong rambut perempuan itu yang lengket dengan luka dikepala perempuan itu..Perempuan itu merintih dan menangis, selama kami rawat..Lalu bu RT membersihkan dan mengobati seluruh luka menganga yang ada disekujur tubuh perempuan itu.
Setelah itu gantian giliran saya yang bertugas. Setelah bu RT selesai merawat luka-lukanya maka saya meminuminya dengan madu yang saya campur dengan air hangat, lalu saya suapi dia bubur sumsum, sesendok demi sesendok. Meski pelan menelannya, bersyukur semua apa yang saya berikan bisa habis.
Lalu perempuan itu sepatah kata dua patah kata mulai mampu menjawab pertanyaan kami meski tidak begitu jelas.
Intinya dia adalah pembantu rumah tangga yang berasal dari Tegal. Baru sebulan berada di Jakarta. Dia dianiaya oleh majikannya disetrika kepalanya dan disiramnya sekujur tubuhnya dengan air mendidih...
Menurut penuturannya saking tidak kuatnya ia langsung lari kepinggir kali dengan tujuan untuk menceburkan dirinya kepinggir kali pikirnya dengan menceburkan diri kedalam kali tidak akan lagi terasa panas. Tetapi sebelum mencapai air ia sudah tidak ingat apa-apa lagi alias lalu pingsan.
Ketika saya tanya siapa nama majikannya dia katanya lupa. Entahlah apakah benar-benar karena dia lupa atau karena rasa ketakutannya? Wallohua'lam...
Akan tetapi ketika saya tanya dimana alamatnya di Tegal? diapun tidak bisa menjawab, katanya lupa.
Saya dengan bu RT berunding lagi bagaimana selanjutnya mengurus perempuan itu. Bu RT punya usul untuk melaporkan ke Dinas Sosial Cabang Grogol, karena ini kasus penganiayaan yang patut ditangani bukan sekedar gelandangan biasa. Sayapun setuju karena ini ide yang bagus.
Sayapun lalu menunggui perempuan itu dipinggir kali, sementara menunggu bu RT pulang dari Dinas Sosial. Saya salut sekali sama usaha bu RT. Tidak berapa lama ada ambulan yang datang untuk menjemput perempuan malang itu..
Sungguh sampai sekarang saya tak dapat melupakan beribu rasa terima kasih perempuan itu yang tersirat pada sorot matanya meskipun ia tak mampu mengungkapkannya melalui kata-kata kepada saya dan bu RT.
Perempuan muda itu terus meneteskan air matanya. Kami tak dapat mengantarnya kerumah sakit dimana perempuan muda itu hendak dirawat. Akan tetapi petugas dari dinas sosial itu sempat memberitahu kepada saya dan bu RT, kalau saya mau mencari perempuan itu besuk,kami disuruh datang ke RSCM ke bangsal umum
Keesokan harinya saya dan bu RT ke RSCM untuk mencari dimana perempuan yang tadi malam itu dirawat.
Melalui perjuangan yang cukup melelahkan, karena mencari pasien yang tidakjelas identitasnya di RS, akhirnya bertemulah kami dengan perempuan yang kami cari.
Ia terlihat gembira sekali ketika kami datang...Ia seperti melihat malaekat penolong setiap menatap kami. Berkali-kali ia selalu mengatakan :'Terima kasih sekali ya Bu'...
Matanya terus berkaca-kaca...
Tetapi setiap kali saya tanya alamat tempat tinggalnya di Tegal ia sudah tidak mampu lagi mengingatnya. Jawabannya selalu lupa dan lupa.
Badannya masih panas, tapi sudah tidak sepanas seperti ketika saya temukan.
Ia mau makan ager-ager yang saya bawakan serta beberapa kueh basah..Sepertinya ia lebih menikmati kedatangan kami daripada semua makanan yang kami bawakan.
Kami tak bisa berlama-lama menungguinya di rumah sakit..Setiap kami mau pulang dan meninggalkannya, selalu ada rasa berat yang menyeruak. Kasihan sekali perempuan malang itu. Teraniaya dirantau orang tidak punya sanak maupun saudara yang merawatnya. Mungkin dia adalah orang yang baik sebelumnya, karena Alloh masih mau mengirimkan pertolongannya saat dia menderita seorang diri dipinggir kali angke.
Tiga hari berturut-turut saya dengan bu RT setia mengunjunginya.Kami selalu menghiburnya dan selalu memberinya semangat agar sabar dan tawakkal menerima musibah. Wajahnya kelihatan ikhlas dan pasrah.
Pada hari ketiga saya dan bu RT hendak pulang dari rumah sakit. Aneh ! Ia tidak mau kami tinggal pulang. Seolah olah ia benar-benar meminta agar kami jangan pulang. Kami saling pandang, heran. Tetapi kami tak bisa menuruti permintaannya, karena repot untuk tidur dirumah sakit. Saya sendiri sedang tidak sehat seperti masuk angin rasanya.
Kamipun pulang dengan setumpuk tanda tanya yang tak menemukan jawabnya.Semalaman saya tak bisa tidur memikirkan nasib perempuan malang itu. Saya sudah merencanakan. Seandainya perempuan itu sudah sehat besuk,dan bisa ingat kembali akan alamat tempat tinggalnya dikampungnya Tegal, saya akan mengantarnya sampai kerumahnya.
Pagi harinya saya dan bu RT kembali ke RSCM untuk menengoknya. Betapa terkejutnya saya mendengar penuturan dari perawat yang bertugas bahwa perempuan malang itu telah meninggal. Waktunya tak berapa lama dari saat kepulangan saya dan bu RT dari Rumah Sakit kemarin.Dan yang membuat saya tak mampu membendung air mata saya waktu itu, ketika mendengar penuturan perawat yang bertugas menungguinya menjelang kepergiannya adalah, bahwa perempuan yang malang itu berkali-kali menanyakan tentang kami, saya dan bu RT.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Dia telah pulang kerahmatullah tanpa seorangpun anggota keluarganya tahu bahwa ia telah meninggal..Dan tanpa seorangpun menungguinya disampingnya, kecuali perawat yang bertugas. Tentu perawat itu hilir mudik.Tidak seperti kalau anggota keluarga sendiri yang menunggui.
 Semoga arwahnya diampuni segala dosanya dan mendapat tempat yang baik disisiNya amin.
Dan siapapun majikannya, agar Anda menjadi tahu bahwa perempuan pembantu rumah tangga Anda yang telah anda aniaya sedemikian rupa telah meninggal dunia. Anda tak perlu takut kepada yang berwajib,karena tak ada seorangpun yang tahu bahwa andalah majikan sadis yang menganiayanya hingga dia meninggal dunia. Sayapun tidak tahu…!!!
Tetapi takutlah kepada Alloh, yang selalu mengetahui perbuatan hambaNya yang paling tersembunyi sekalipun. Yang pasti Alloh akan meminta pertanggung jawaban kita, ketika kita hidup didunia, sekarang atau nanti ketika kita sudah kembali ke HaribaanNya.
Saya berdoa agar Alloh berkenan mengampuni dosa-dosa Anda. Segeralah Anda bertobat mohon ampun kepada Alloh atas dosa-dosa anda.
Saya selalu meneteskan air mata setiap terkenang akan perempuan malang itu. Betapa ganasnya kehidupan metropolitan. Marilah kita selalu mendekatkan diri kepadaNya agar selalu mendapat bimbingan dan perlindunganNya.Amien...
Demikian sahabat, kisah yang pernah saya alami di Jakarta, dengan ini semoga menjadikan kita lebih berhati-hati dan mensyukuri segala nikmat yang telah kita terima dari Alloh SWT. Lebih baik mensyukuri sedikit yang ada daripada mengangankan banyak  yang masih dalam angan-angan.
Semoga kita semua dapat mencari hikmahnya Amin.

By Niniek SS